baksos ke desa Cisameng, Cianjur dan Karawang

Posted On Maret 31, 2010

Filed under SIP

Comments Dropped leave a response

tanggal 27 Maret 2010 kemaren, aku mengikuti kegiatan bakti sosial bersama yayasan MARBA ke Bandung, Cianjur dan Karawang. Yayasan MARBA yang beralamatkan di Jl. Tebet Barat Dalam menyumbangkan sembako dan makanan ringan untuk warga dan anak-anak korban banjir di Bandung (desa Cisameng), Cianjur, dan Karawang. Banjir di ketiga daerah tersebut adalah banjir kiriman dari Waduk Jatiluhur yang debit airnya sudah melebihi kapasitas waduk tersebut karena curah hujan yang tinggi di sekitar Jawa Barat. akhirnya air tersebut di alirkan ke sungai, yaitu sungai Citarum. warga yang tinggal di kawasan waduk saguling, desa Cisameng, Kab. Bandung Barat segera mengungsi setelah ada pemberitahuan dari PLTA Waduk Saguling.
waktu itu kejadiannya hari Sabtu. jembatan yang menghubungkan desa Cisameng dengan Cianjur terputus karena derasnya air. akhirnya warga Cianjur yang hanya memiliki jalur tercepat untuk sampai ke jalan raya dengan jembatan tersebut terisolir. menurut warga setempat, ada 6 korban jiwa yaitu para petani yang sedang berada di sawah yang dekat dengan sungai citarum yang tidak mengetahui bahwa ada air deras yang datang. akhirnya mereka terbawa air. itu sedikit kesimpulan informasi yang aku dapatkan ketika berada di tempat kejadian.
aku sebagai volunteer dari yayasan MARBA bersama teman2 yang lain, mulai mengepak sembako dari jumat siang. sabtu pagi kami menuju lokasi banjir. perjalanan selama 3 jam menuju desa cisameng sangat menyenangkan. para volunteer mengendarai mobil ranger dan mobil bak terbuka yang berisi penuh dengan sembako dan makanan ringan.
sesampainya di desa ci sameng, kami langsung mengkoordinasikan pendistribusian sembako tersebut dengan kepala desa setempat. kami menghibur ibu-ibu dan anak-anak disana. setelah di desa cisameng selesai, kami menuju cianjur yang hanya dipisahkan oleh sungai citarum. kami membawa sembako dengan menaiki perahu karet. kami mengarungi jeram yang sangat besar dan sungai yang sangat luas. ini pengalaman pertamaku berarung jeram.
kami melakukan hal yang sama di cianjur. membagi-bagikan sembako, makanan ringan, dan menghibur anak-anak dengan menyewa seorang badut. mereka tertawa sangat bahagia. kamipun merasa sangat puas dan bahagia. rasa lelah, mengantuk, lapar, hilang semua ketika melihat anak-anak tertawa lepas.
setelah acara di cianjur selesai, kami kembali ke desa cisameng dengan berarung jeram kembali. cuaca mendung, sepertinya akan turun hujan. volunteer yang wanita (ada 4 orang termasuk aku) di sebrangkan terlebih dahulu. lalu volunteer kloter berikutnya menyebrang, ternyata ketika mereka berada di tengah2 sungai, hujan turun dengan angin kencang. para pendayung mencoba untuk menyeimbangkan perahu. tetapi akhitnya 1 orang pendayung terjatuh ke sungai, keadaan perahu karetpun menjadi tidak seimbang. beberapa pendayung tercebur lagi ke sungai, perahu karet yang dinaiki 4 orang volunteer laki-laki mental ketengah sungai. mereka tidak membayangkan hal-hal seperti itu sebelumnya. mereka panik sekali, tetapi akhirnya mereka bisa selamat menyebrangi sungai citarum dengan basah kuyup.
volunteer kloter terakhir selamat juga menyebrangi sungai. pendistribusian sembako di dua desa tersebut berjalan lancar. lalu kami berangkat ke Karawang. kami diberitahukan bahwa di Masjid Agung Karawang banyak pengungsi yang tidur disana. akhitnya kami menuju masjid agung karawang. sampai disana pukul 9 malam, kebanyakan pengungsi sudah tertidur. tetapi kami tetap membagi2kan sembako. selesai pembagian sembako, kami makan di warung makan pinggir jalan di depan masjid agung. aku sangat menikmati kebersamaan dengan teman-teman volunteer yayasan MARBA.
selesai makan, kami diajak oleh salah satu warga untuk melihat keadaan rumah-rumah warga yang masih terendam banjir. disana sangat menyeramkan, gelap karena listrik belum menyala, dan sepi karena warga meninggalkan rumah. aku sangat sedih melihat kejadian ini semua. setelah serangkaian kegiatan bakti sosial selesai, kami menuju Jakarta. pulang kerumah, home sweet home. sampai di kantor yayasan MARBA pukul 00.30.
aku sangat menikmati kegiatan2 sosial seperti ini, karena memberikan kepuasan batin untuk ku.

GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK

Posted On November 21, 2009

Filed under psikologi

Comments Dropped leave a response

John C. Nemiah, MD, profesor psikiatri dari Harvard Medical School dalam bukunya Foundations of Psychopathology menjelaskan istilah narsisme berasal dari kata Narcissus, nama seorang pemuda tampan dalam mitos Yunani kuno. Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya pada permukaan air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri. Selanjutnya ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya; ia bunuh diri dengan sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai sekarang dikenal dengan nama Narcissus. Dari penjelasan di atas, tergambar adanya kesulitan besar berhubungan dengan orang lain bila kita terlalu mengagumi diri sendiri. Kekaguman pada diri sendiri yang berlebihan membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

A. PENGERTIAN

Gangguan Kepribadian adalah pola-pola perilaku maladaptive yang sifatnya kronis, dan sepenuhnya tidak merasakan gangguan (Meyer dan Salmon, 1984). Beberapa  ciri lain gangguan kepribadian antara lain adalah kepribadian menjadi tidak fleksibel, tidak wajar atau tidak dewasa dalam menghadapi stres dalam memecahkan masalah. Mereka umumnya tidak kehilangan kontak dengan realitas dan tidak menunjukkan kekacauan perilaku yang mencolok seperti pada penderita narsistik. Penderitaan ini biasanya dialami oleh para remaja dan dapat berlangsung sepanjang hidup ( Atkinson dkk., 1992).

Gangguan kepribadian narsissistik (narcissistic personality disorder) atau cinta pada diri sendiri digambarkan sebagai orang yang memiliki rasa kepentingan diri yang melambung (gradiositas) dan dipenuhi khayalan-khayalan sukses bahkan saat prestasi mereka biasa saja, jatuh cinta pada dirinya sendiri karena merasa mempunyai diri yang unik, selalu mencari pujian dan perhatian, serta tidak peka terhadap kebutuhan orang lain, malahan justru seringkali mengeksplorasinya. ( Atkinson dkk., 1992). Dan mereka juga beranggapan bahwa dirinya spesial dan berharap mendapatkan perlakuan yang khusus pula. Oleh karena itu, mereka sangat sulit atau tidak dapat menerima kritik dari orang lain. Mereka selalu ingin mengerjakan sesuatu sesuai dengan cara yang sudah mereka tentukan dan seringkali ambisius serta mencari ketenaran. Sikap mereka ini mengakibatkan hubungan yang mereka miliki biasanya rentan (mudah pecah) dan mereka dapat membuat orang lain sangat marah karena penolakan mereka untuk mengikuti aturan yang telah ada. Mereka juga tidak mampu untuk menampilkan empati, kalaupun mereka memberikan empati atau simpati, biasanya mereka memiliki tujuan tertentu untuk kepentingan diri mereka sendiri, atau dengan kata lain mereka bersifat selfabsorbed.

Meski mereka berbagi ciri tertentu dengan kepribadian histrionik, seperti tuntutan untuk menjadi pusat perhatian, mereka memiliki pandangan yang jauh lebih membanggakan tentang diri mereka sendiri dan kurang melodramatik dibanding orang dengan kepribadian histrionik. Label gangguan kepribadian ambang (BPD) terkadang dikenakan pada mereka, namun orang dengan kepribadian narsistik umumnya dapat mengorganisasi pikiran dan tindakan mereka dengan lebih baik. Mereka cenderung lebih berhasil dalam karier mereka dan lebih bisa meraih posisi dengan status tinggi dan kekuasaan. Hubungan mereka juga cenderung lebih stabil dibanding dengan orang BPD.

Gangguan kepribadian narsistik ditemukan kurang dari  1% dalam populasi umum (APA, 2000). Walaupun lebih dari setengah orang yang didiagnosis dengan gangguan ini adalah laki-laki, kita tidak dapat mengatakan bahwa ada perbedaan gender yang mendasar pada tingkat prevalensi dalam populasi umum. Derajat tertentu dari narsisme dapat mencerminkan penyesuaian diri yang sehat akan rasa tidak aman, sebuah tameng akan kritik dan kegagalan, atau motif untuk berprestasi (Goleman, 1988). Kualitas narsistik yang berlebihan dapat menjadi tidak sehat, terutama bila kelaparan akan pemujaan yang menjadi keserakahan.

B. CIRI-CIRI GANGGUAN

Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain, serta masih banyak lagi (DSM-IV). Perasaan-perasaan tersebut mendorong mereka untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun juga.

Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5 (lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai berikut:

1. Merasa Diri Paling Hebat

Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat atau penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra atau image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu  bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh “diri sendiri” dianggap bukan suatu hal yang aneh. Merasa diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of self-important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi) dan harta benda.

2. Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya (is often envious of others or believes that others are envious of him or her).

3. Fantasi  Kesuksesan & Kepintaran

Dipenuhi dengan  fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati (is preoccupied with fantasies of unlimited success, power, briliance, beauty, or ideal love).

Pintar dan sukses memang adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka menganggap bahwa kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan) belum cukup jika tidak diikuti dengan gelar akademik yang seringkali dianggap sebagai simbol “kepintaran” seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka seringkali tidak memiliki modal dasar yang cukup karena adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki waktu untuk sekolah lagi.  Hal ini membuat mereka memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang dimiliki).

4. Sangat Ingin dikagumi (requires excessive admiration).

Pada umumnya para  pembeli gelar adalah para individu yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan “simbol-simbol” yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk  gelar akademik. Obsesi untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya). Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol kekaguman tersebut.

5. Kurang empati  (lacks of empathy: is unwilling to recognize or identify with the feelings and needs of others).

Para pembeli gelar pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki empati pastilah mereka dapat merasakan betapa sakit hati para pemegang gelar sungguhan karena kerja keras mereka bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal uang puluhan juta rupiah.

6. Merasa Layak Memperoleh Keistimewaan (has a sense of entitlement).

Setiap individu yang mengalami gangguan kepribadian narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu mereka tidak merasa risih atau pun malu jika membeli gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu keistimewaan yang layak mereka dapatkan.

7. Angkuh dan Sensitif Terhadap Kritik (shows arrogant, haughty behavior or attitudes).

Pada umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi tidaklah mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan terjawab. Bahkan mereka akan menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik.

8. Kepercayaan Diri yang Semu

Jika dilihat lebih jauh maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di depan orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal dasar yang kuat. Para individu yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut bersaing dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas yang sudah pasti hasilnya.

9. Yakin bahwa dirinya khusus, unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus dengan orang atau institusi yang khusus atau memiliki status tinggi.

Secara sains tidak ditemukan sebab-sebab yang sifatnya mengungkapkan narsistik. tapi banyak riset yang mengungkapkan bahwa ada faktor tertentu yang menandakan bahwa seseorang itu memiliki gangguan kepribadian narsistik antara lain:

  1. merasa dirinya sangat penting dan ingin dikenal oleh orang lain
  2. merasa diri unik dan istimewa
  3. Suka dipuji dan jika perlu memuji diri sendiri
  4. kecanduan difoto atau di shooting
  5. suka berlama lama di depan cermin
  6. kebanggan berlebih
  7. Eksploitatif secara interpersonal(is interpersonally exploitative), yaitu mengambil keuntungan dari orang lain demi kepentingan diri sendiri.
  8. Perilaku congkak/ sombong.

Membedakan gangguan kepribadian narsistik dengan gangguan lain.

Gangguan kepribadian borderline, histrionik, dan antisosial seringkali muncul bersamaan dengan gangguan kepribadian narsistik. Hal ini mempersulit terapis untuk membedakan keempat gangguan tersebut. Individu dengan kepribadian narsisitik biasanya lebih rendah tingkat kecemasannya bila dibandingkan dengan individu borderline. Selain itu, kecenderungan untuk bunuh diri pun prevalensinya lebih besar pada individu borderline ketimbang narsisitik.

Pada kepribadian antisosial, mereka biasanya memiliki sejarah tingkah laku yang impulsif berkaitan dengan penggunaan alkohol dan zat-zat terlarang, serta seringkali mereka memiliki masalah dengan hukum. Sedangkan pada individu histrionik, mereka memiliki kecenderungan yang sama dengan individu narsisistik, terutama dalam hal hubungan interpersonal yang manipulatif dan tingkah laku memamerkan dan menunjukkan kelebihan yang mereka miliki.

Apakah narsis sama dengan “percaya diri” ? Beda !

Seseorang yang narsis memposisikan dirinya sebagai objek, sementara seseorang yang percaya diri memposisikan dirinya sebagai subjek. Seorang yang percaya diri tidak terlalu risau dengan ataupun tanpa pujian orang lain karena kelebihan fisik yang dimiliki, dirasakan sebagai anugerah Tuhan yang selalu disyukuri  Seseorang yang percaya diri lebih fokus kepada “kompetensi diri” ketimbang penampilan fisik.

Ciri-ciri Self-Interest yang Normal Dibandingkan dengan Narsisme yang Self-Defeating.

Self-Interest yang Normal Narsisme yang self-Defeating
Menghargai pujian, namun tidak membutuhkannya untuk menjaga self-esteem.Kadang-kadang terluka oleh kritik.Merasa tidak bahagia dalam menghadapi kegagalan namun tidak merasa tidak berhargaMerasa ”spesial” atau memiliki bakat unik.

 

Merasa nyaman dengan diri sendiri, bahkan saat orang lain mengkritik.

Menerima masa lalu secara logis, meski hal tersebut menyakiti dan dirasa tidak stabil untuk sementara.

Mempertahankan self-esteem dalam menghadapi ketidaksetujuan atau kritik.

Mempertahankan keseimbangan emosional meski kurangnya perlakuan khusus.

Empati dan peduli dengan perasaan orang lain.

Lapar akan pemujaan; memerlukan pujian agar dapat merasa baik akan dirinya sendiri untuk sementara.Merasa marah /hancur oleh kritik dan merasakan kesedihan yang mendalam.Memikul perasaan malu dan tidak berharga setelah mengalami kegagalan.Merasa lebih baik dari orang lain, dan meminta penghargaan akan kemampuannya yang tidak dapat dibandingkan.

 

Perlu dukungan terus-menerus dari orang lain untuk menjaga perasaan nyaman dan bahagia.

Berespon terhadap luka kehidupan dengan depresi atau kemarahan

Berespon terhdap ketidaksetujuan atau kritik dengan hilangnya self-esteem..

Merasa pantas mendapat perlakuan khusus dan menjadi sangat marah saat diperlakukannya dengan cara yang biasa.

Tidak sensitif terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain; mengeksploitasi orang lain sampai mereka puas.

Membandingkan self-interest yang ”normal” dan narsisme ekstrem yang self-defeating, pada titik tertentu, self interest mendorong keberhasilan dan kebahagiaan. Pada kasus yang lebih ekstrem, seperti pada narsisme, hal itu dapat merusak hubungan dan karier.

Orang dengan kepribadian narsistik cenderung terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta yang ideal, atau pengakuan akan kecerdasan atau kecantikan. Mereka, seperti orang dengan kepribadian histrionik, mengejar karier dimana mereka bisa mendapatkan pemujaan, seperti modelling, acting, atau politik. Meski mereka cenderung membesar-besarkan prestasi dan kemampuan mereka, banyak orang dengan kepribadian narsistik yang cukup berhasil dalam pekerjaannya. Namun mereka iri dengan kepribadian orang yang lebih berhasil. Ambisi yang serakah membuat mereka mendedikasikan diri untuk bekerja tanpa lelah. Mereka terdorong untuk berhasil, bukan untuk mendapatkan uang melainkan untuk mendapatkan pemujaan yang menyertai kesuksesan.

Hubungan interpersonal selalu berantakan karena adanya tuntutan yang dipaksakan oleh orang dengan kepribadian narsistik kepada orang lain dan karena kurangnya empati serta kepedulian mereka terhadap orang lain. Mereka mencari pertemanan dengan para pemuja merek dan sering tampak penuh karisma.dan ramah serta dapat menarik perhatian orang. Namun minat mereka pada orang lain hanya bersifat satu sisi: Mereka mencari orang yang mau melayani minat mereka dan memelihara rasa self-importante mereka  (Goleman,1988). Mereka memiliki perasaan berhak yang membuat mereka merasa bisa mengeksploitasi orang lain. Mereka memperlakukan pasangan seks mereka sebagai alat untuk kenikmatan mereka sendiri atau untuk  mendukung self-esteem mereka.

Spencer A Rathus dan Jeffrey S. Nevid menyebutkan dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000) bahwa orang yang Narcissistic memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Hal tersebut dapat berupa kekaguman yang berlebihan terhadap wajah sendiri atau dapat pula terhadap bagian tubuh tertentu seperti menyukai bentuk mata, bentuk bibir, betis dsb.Kebutuhan untuk diperhatikan dapat pula menjadikan seseorang rentan terhadap kekurangan fisik. Ada yang merasa sangat tidak nyaman gara gara jerawat “bandel”, ada merasa perlu dandan total, walaupun cuma mau ke pasar.

C. CONTOH KASUS

David berprofesi sebagai pengacara dan berusia awal 40an. Dia pertama kali datang mengunjungi psikolog untuk mengatasi mood negatifnya. Sejak awal pertemuan tampak bahwa David sangat menaruh perhatian pada penampilannya. Dia secara khusus menanyakan pendapat terapis mengenai baju setelan model terbaru yang dikenakannya dan juga sepetu barunya. David juga bertanya kepada terapis tentang mobil yang digunakan dan berapa banyak klien kelas atas yang ditangani oleh terapis tersebut. David sangat ingin memastikan bahwa dia sedang berhubungan dengan seseorang yang terbaik bidangnya. David bercerita tentang kesuksesannya dalam bidang akademis dan olahraga, tanpa mampu memberikan bukti apapun yang memastikan keberhasilannya. Selama bersekolah di sekolah hukum, dia adalah seorang work- aholic, penuh akan fantasi akan keberhasilannya hingga tidak memiliki waktu untuk isterintya. Setelah anak mereka lahir, David semakin sedikit menghabiskan waktu dengan keluarganya. Tidak lama setelah dia memliki pekerjaan yang mapan, David menceraikan isterinya karena tidak lagi membutuhkan bantuan ekonomi dario sang istri. Setelah perceraian tersebut, David memutuskan bahwa dia benar-benar bebas untuk menikmati hidupnya. Dia sangat suka menghabiskan uang untuk dirinya sendiri, misalnya dengan menghias apaartemennya dengan berbagai benda-benda yang sangat menarik perhatian. Dia juga seringkali berhubungan dengan wanita-wanita yang sangat menarik. Dalam pergaulannya, David merasa nyaman apabila dirinya menjadi pusat perhatian semua orang. Dia pun merasa nyaman ketika dia berfantasi mengenai kepopuleran yang akan diraihnya, mendapatkan suatu penghargaan, ataupun memiliki kekayaan berlimpah (sumber : Barlow & Durant, 1995).

D. PENYEBAB

Individu dengan gangguan kepribadian narsisitik tidak memiliki self-esteem yang mantap dan mereka rentan untuk menjadi depresi. Masalah-masalah yang biasanya muncul karena tingkah laku individu yang narsistik misalnya sulit membina hubungan interpersonal, penolakan dari orang lain, kehilangan sesuatu atau masalah dalam pekerjaan. Kesulitan lainnya adalah mereka ternyata tidak mampu mengatasi stress mereka rasakan dengan baik.

Prevalensi dari gangguan kepribadian narsisitik berkisar antara 2 hingga 16% pada populasi klinis dan kurang dari 1% pada populasi umumnya. Prevalensi mengalami peningkatan pada populasi dengan orangtua yang selalu menanamkan ide-ide kepada anaknya bahwa mereka cantik, berbakat, dan spesial secara berlebihan.

Gangguan kepribadian narsistik merupakan gangguan yang kronis dan sulit untuk mendapatkan perawatan. Mereka biasanya tidak dapat menerima kenyataan bahwa usia mereka sudah lanjut, mereka tetap mengahargai kecantikan, kekuatan, dan usia muda secara tidak wajar. Oleh karena itu, mereka lebih sulit untuk melewati krisis pada usia senja ketimbang individu lain pada umumnya.

Bagaimana Terjadinya?

Kita semua memiliki tingkat harga diri bervariasi. Dalam rangka menemukan diri dalam keadaan berharga, seseorang mungkin harus merasakan bahwa dirinya dicintai orang lain, dirinya kuat dan berkemampuan, serta bahwa dirinya baik dan mencintai. Keyakinan bahwa diri tidak dicintai, tergantung, atau dalam keadaan buruk, menghasilkan rasa kehilangan harga diri, dan dapat berakibat depresi.

Menurut penelitian Nemiah, umumnya perasaan harga diri yang rendah dan depresi karena jatuhnya angan-angan ideal hanya berlangsung dalam waktu singkat. Dengan mudah kita dapat kembali merasakan ekspresi kasih sayang dan kenyamanan yang diberikan orang lain. Kita dapat ”belajar dari kegagalan” dan merencanakan bertindak lebih baik pada masa yang akan datang. Kita dapat merefleksikan bahwa orang lain juga bisa melakukan kesalahan, dan tak seorang pun sempurna.

Kesalahan adalah manusiawi. Kita mampu mengkritisi diri sendiri, tetapi pada saat yang sama juga bersikap toleran terhadap diri sendiri. Pada orang tertentu, yang dibesarkan oleh orangtua yang menanamkan standar dan idealisme tidak realistis sehingga menghasilkan perasaan tidak mampu dan ketergantungan, setelah dewasa ia akan mengembangkan ciri-ciri sifat seperti ketika masa kanak-kanak. Akibatnya secara eksesif (berlebihan) mengkritisi kesalahannya. Cinta, perhatian, dan kebanggaan dari orang lain merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang.

Menurut Nemiah, keadaan tersebut merupakan wujud ketergantungan oral (oral dependency). Dikatakan demikian karena elemen ketergantungan tersebut dan hambatannya dalam relasi dengan orang lain merupakan hasil dari periode masa kanak-kanak awal (bayi), yaitu ketika dorongan oral (refleks mengisap) berkembang dan anak sangat tergantung pada orangtuanya. Berkembangnya narsisme dapat berlangsung terus hingga seseorang dewasa.

Pada penderita narsisme terdapat hubungan erat antara kebutuhan narsistik dengan kemarahan, bila kebutuhan itu tidak terpuaskan maka akan timbul reaksi tidak setuju dan marah ketika gagal mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Kebutuhan dan tuntutannya atas orang lain lebih kuat dan lebih sering dibanding orang dewasa yang berkepribadian matang. Akibat adanya perasaan lemah, ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan yang dialami secara intensif; dan seringnya terjadi ketidakpuasan (kekecewaan); ia mulai berharap, seringkali mencari, menyeberang ke orang lain, dan makin kuat sensitivitasnya terhadap penolakan sehingga reaksi-reaksi kemarahannya sangat kuat. Ini bertentangan dengan harapannya untuk menjadi orang yang baik dan mencintai, sehingga menambah perasaan ketidakcakapan, ketidakberdayaan, dan rasa bersalah.

Penderita narsisme terjebak dalam lingkaran setan, di mana sebuah tindakan dapat membuat mereka semakin mengalami kesulitan. Kondisi psikologis ambivalen (atau keadaan memiliki hubungan yang ambivalen dengan seseorang yang penting) seperti itu, jelas bukan keadaan yang nyaman. Nemiah juga menjelaskan bahwa penderita narsisme besar kemungkinannya menderita kesulitan emosional, bila dihadapkan pada kematian individu tempat dirinya bergantung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan narsistiknya.

E. METODE PENANGANAN

Adakah cara untuk keluar dari gamgguan kepribadian narsisme? Tentu saja yaitu dengan mengambil jalur lain; tidak mengikuti dorongan emosi atau dorongan bertindak yang diarahkan oleh narsisme. Untuk itu diperlukan kesediaan mengamati gerak-gerik emosi dan keinginan-keinginan di balik perilaku kita dalam berhubungan dengan orang lain, supaya dorongan yang egoistis dan tidak realistis dapat dikenali. Selain itu juga harus mulai belajar berempati, membiasakan diri mengamati masalah dari perspektif orang lain.

Sedikitnya ada dua fakta yang bisa menjelaskan kesombongan di dalam diri manusia. Yang pertama, semua orang tidak suka melihat kesombongan di dalam diri orang lain. Kedua, tidak ada orang yang bisa menerima dengan ikhlas apabila kesombongannya dikoreksi orang lain. Adapun proses atau solusi yang dapat kita lakukan:

  1. Selalu menciptakan perbandingan positif. Artinya,kita melihat orang lain sebagai makhluk yang piunya kelebihan dan mempunyai sesuatu materi yang bisa kita bagikan untuk memperbaiki diri, siapapun orang itu.
  2. Koreksi langsung. Terkadang kita memunculkan ucapan, perilaku dan sifat-sifat yang mengandung kesombongan dan itu baru kita sadari setelah kita renungkan.
  3. Menumbuhkan dorongan untuk melaklukan learning (pembelajaran hidup).
  4. Belajar hidup sederhana. Sederhana disini bukan berati miskin atau berpura-pura miskin. Sederhana adalah moderasi yang proporsional. Sederhannya orang kaya adalah menghindari kefoya-foyaan atau berlebih-lebihan untuk hal-hal yang manfaatnya kecil, sedangkan sederhannya orang yang belum atau tidak kaya adalah menghindari munculnya nafsu untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang menyengsarakan diri. Hal ini agar kita tidak masuk kedalam perangkap hedonisme.
  5. Belajar memilih ungkapan, penyingkapan dan keputusan yang bersumber dari kerendahan hati (humble). Misalnya: melihat cara orang lain, membaca buku, mengoreksi diri kita dimasa lalu dan lain. Karena hukum paradoks yang bekerja didunia ini menggariskan bahwa ketika kita humble,justru feed back yang muncul adalah sebaliknya, begitu juga tinggi hati (arogant), feed back yang muncul sebaliknya lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Fausiah, F &  Widury, J. 2005.PSIKOLOGI ABNORMAL Klinis Dewasa. Jakarta : Universitas Indonesia.

Riyanti, B.P.D., Prabowo,H. 1998. Psikologi Umum 2.Jakarta:Universitas Gunadarma.

Nevid, J.S., Rathus, S.A., & Greene, B. 2003. Psikologi Abnormal jilid 1. Jakarta : Erlangga.

http://www.spiritualis.org/index.php?showtopic=144&mode=threaded

http://www.gayahidupsehatonline.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=4&artid=118&PHPSESSID=058c9378ea82bd431c63cbeaac1d60e2

http://www.seniornews.co.id/06/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=&artid=118

FACEBOOK DAN WANITA

Posted On November 20, 2009

Filed under psikologi

Comments Dropped leave a response

Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi internet juga semakin maju. Internet adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Banyak sekali aktivitas yang dapat kita lakukan melalui internet, diantaranya adalah browsing, chatting, e-mail, dan berinteraksi dengan orang lain dengan berbagai macam cara.

Terdapat berbagai macam situs yang dapat kita akses dengan mudah melalui internet, salah satunya adalah facebook. Facebook didirikan tahun 2004, Facebook telah mencatatkan lebih dari 37 juta pengguna serta ribuan jaringan bisnis. Facebook dibuat oleh alumni Universitas Harvard, Mark Zuckenberg awalnya hanya sebatas situs untuk para alumni lulusan Harvard. Selanjutnya Facebook berkembang pesat sebagai situs untuk hiburan dan pekerjaan. Facebook memiliki layanan fitur privasi. Dengan layanan para pengguna Facebook dapat mengontrol terhadap siapa saja yang diperbolehkan mengakses data profil mereka. Facebook telah mengembangkan berbagai ragam aplikasi yang dapat diinstall para pengguna. Aplikasi-aplikasi inilah yang memberikan nilai tambah bagi Facebook.

Pada saat ini, facebook merupakan salah satu situs jejaring sosial yang sedang menjamur di belahan negara manapun termasuk Indonesia. Dengan situs tersebut, kita dapat berkomunikasi dengan sesama pengguna situs tersebut. Kebanyakan penggunanya adalah teman-teman lama kita yang sudah lama tidak bertemu ataupun teman-teman yang baru kita kenal di dunia maya tersebut. Bukan hanya orang dewasa saja yang menggunakan situs jejaring sosial ini, tapi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar juga bisa menggunakan situs tersebut. Facebook menjadi sangat fenomena, karena banyak sekali menimbulkan reaksi pro dan kontra dari masyarakat Indonesia.

Awalnya facebook hanya bersifat menyenangkan untuk pribadi penggunanya, namun sekarang banyak dari para pengguna situs jejaring sosial ini yang memanfaatkan keberadaan dan kemudahan dari aplikasi yang ada didalamnya. Di mulai dari mencari teman, menjalin hubungan dengan mitra kerja, sampai ada yang melakukan interaksi jual beli. Pada kesempatan ini, saya hanya membatasi masalah dari dampak sosial facebook untuk mereka yang telah memiliki pasangan baik itu yang sudah menikah ataupun baru pada tahap pacaran. Bagi yang memiliki pasangan, mereka bisa dengan mudah berkomunikasi melalui facebook jika tidak sempat bertemu. Mereka bisa mengetahui aktivitas pasangan masing-masing di facebook, siapa saja teman-temannya, komen-komen apa saja, dan mengupload foto.

Dengan banyaknya kemudahan yang didapatkan tersebut bagi siapa saja dan khususnya bagi para pasangan, maka akan menimbulkan beberapa konflik dalam hubungan mereka. Diantaranya adalah perselingkuhan melalui facebook. Maraknya perselingkuhan yang terjadi di facebook membuat situs jejaring sosial ini dianggap sebagai ‘biang keladi’ retaknya sejumlah perkawinan dan hubungan asmara. Tak bisa dipungkiri ajang saling mengomentari status dan foto, dan mengirimkan pesan lewat fitur ‘wall’ memang cukup menyenangkan. Namun, aktivitas menyenangkan ini bisa berubah menjadi ajang pertengkaran antar pasangan. Terbukti dari penelitian yang dilakukan terhadap 300 orang mengungkapkan Facebook dapat meningkatkan rasa cemburu, terutama pada wanita. Kebanyakan wanita melakukan sesuatu dimulai dengan perasaannya terlebih dahulu, apakah sesuai dengan yang mereka inginkan, rasakan dan barulah berfikir logis.

Berbeda dengan para pria, mereka memulai sesuatu dengan logikanya. Tidak banyak para pria yang sangat sensitif, bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan sama sekali. Namun para pria tidak menginginkan sesuatu hal menjadi lebih rumit, mereka bisa bersikap lebih praktis dan cuek dibandingkan dengan para wanita. Hal itulah yang menyebabkan kebanyakan para wanita yang memiliki rasa cemburu lebih besar daripada pria.

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal CyberPsychology & Behavior edisi Agustus 2009 ini menyatakan hal-hal yang bisa memicu rasa cemburu mulai dari pasangan memiliki teman baru, komentar dari teman wanitanya, hingga aktivitas facebook lain, seperti mengisi kuis, upload foto bahkan main games. Pada data penelitian terungkap bahwa sebagian besar responden rata-rata memiliki 300 teman dan menghabiskan sekitar 40 menit sehari membuka facebook. Bagi mereka yang membuka facebook lebih dari 40 menit sehari memiliki level cemburu yang lebih tinggi.

Ternyata, banyak responden yang mengaku bila membuka facebook lebih lama, mereka cenderung membuka akun pasangannya beberapa kali. Bahkan, tidak sedikit wanita yang mengintip akun pasangannya di sela-sela waktu kerja atau belajar (mahasiswi). Sebanyak 72 persen dari responden memiliki alasan bahwa mereka penasaran ingin melihat aktivitas pasangannya di facebook. Biasanya jika pasangannya tidak terlalu banyak up date, mereka mengaku merasa tenang. Namun, kalau pasangannya cukup aktif berkomunikasi di facebook terutama dengan teman wanitanya, inilah yang bisa menjadi pemicu rasa cemburu yang dapat berujung pada pertengkaran.

Hasil penelitian ini menyimpulkan, lebih banyak responden wanita yang mengintip akun facebook pasangannya dibandingkan responden pria. Lucunya, para responden pria mengaku justru menghindari membuka akun pasangannya, karena lebih tertarik membuka akun facebook wanita lain.

Dari hasil penelitian tersebut, dijelaskan bahwa wanita mempunyai tingkat kecemburuan yang lebih besar dibandingkan pria. Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi bila keduanya bisa menjaga sikap, menghormati, menghargai perasaan dan keberadaan pasangan masing-masing, sadar akan status yang sudah mereka miliki dan dibutuhkan kejujuran dari tiap pasangan. Selain itu, tergantung tiap-tiap individunya, facebook yang mereka gunakan itu hanya untuk sebatas berkomunikasian dengan rekan-rekan saja atau berfungsi sebagai ajang cari jodoh. Untuk para facebooker’s (sebutan untuk pengguna facebook), bersikaplah realistis. Situs-situs yang ada di internet hanyalah dunia maya, yang kita semua tidak tahu dengan pasti akan kebenaran informasi dari para pengguna situs tersebut.

Dampak Internet terhadap Kerahasiaan Alat Tes Psikologi

Posted On November 19, 2009

Filed under psikologi

Comments Dropped leave a response

Zaman semakin berkembang, ilmu pengetahuan dan teknologipun mengalami kemajuan yang pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan manusia yang semakin meningkat jumlah kebutuhannya seiring berkembangnya zaman. Contoh perkembangan zaman antara lain adalah globalisasi, dan teknologi yang semakin canggih. Perkembangan teknologi yang semakin canggih ini, memiliki berbagai dampak postif dan negatif di semua aspek kehidupan manusia. Salah satu contoh positif dari perkembangan teknologi yang pesat adalah memudahkan manusia untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya televisi, radio, media cetak, maupun media elektronik seperti internet. Perkembangan teknologi juga memiliki dampak negatif, yaitu salah satunya adalah keterbukaan informasi yang tidak bertanggung jawab yang didapatkan dari sumber-sumber informasi di atas salah satunya internet.

Hampir semua orang dapat mengakses berbagai informasi dari internet. Salah satunya adalah informasi di bidang psikologi yaitu mengenai alat-alat tes psikologis. Saat ini, banyak sekali alat-alat tes psikologi tidak terjamin kerahasiaannya karena keterbukaan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari internet. Menurut Djamaludin Ancok, kini semakin sulit untuk merahasiakan alat tes karena begitu mudahnya berbagai tes diperoleh melalui internet. Program tes inteligensi seperti tes Raven, dan Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut.

Apabila tes-tes psikologi tersebut bocor, maka penulis memiliki kekhawatiran akan banyaknya biro-biro psikologi yang gulung tikar. Karena masyarakat akan mempunyai asumsi bahwa mereka tidak perlu lagi untuk datang ke biro psikologi untuk melakukan berbagai macam tes psikologis. Hal ini disebabkan juga karena mereka mendapatkan kemudahan hanya denga membuka internet, mencari tes psikologi online yang mereka butuhkan, langsung dapat mengetahui hasilnya dan dengan biaya yang murah meriah. Sebenarnya tes-tes psikologi tidak hanya mudah dicari melalui internet, sekarang sudah banyak juga yang menjual buku-buku tentang tes psikologi dengan harga yang murah.

Penulis sangat meyakini bahwa yang membuat dan menjual alat-alat tes psikologi melalui internet maupun buku di toko-toko buku yang ada adalah bukan orang-orang yang berasal atau bergerak di bidang psikologi dan minimal daru jurusan psikologi. Karena orang-orang yang benar-benar bergerak di bidang psikologi tersebut memiliki kode etik psikologi (lihat http://himpsijaya.org/kode-etik). Hal ini di dukung oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang akan mengajukan Rancangan Undang-undang Psikologi ke DPR. RUU ini dibuat karena banyak terjadi penyimpangan dalam profesi psikolog. Ketua Himpsi, Rahmat Ismail, menyatakan saat ini banyak profesi yang bukan psikolog, melakukan tugas-tugas yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh seorang psikolog. Misalnya, melakukan rekrutmen. Padahal, kata Rahmat, rekrutmen jelas-jelas merupakan kompetensi dari psikolog.

Dalam mengikuti psikotes atau tes-tes psikologis lainnya, tidak diperlukan bimbingan atau membaca buku-buku yang berkaitan dengan tes-tes psikologis. Karena hal tersebut menurut Rahmat merupakan potret diri masing-masing individu. Masing-masing individu memiliki ciri khas tertentu. Apapun yang dijawab dalam soal-soal psikotes, akan memunculkan ciri khas atau keunikan dari individu-individu tersebut yang sebenarnya. Dampak negatif lain dari kebocoran tes-tes psikologis adalah tes-tes tersebut menjadi tidak valid. Artinya adalah alat tes tersebut tidak dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur, karena subjek atau orang yang mengikuti tes psikologis itu sudah mengetahui apa yang akan ia jawab dalam tes tersebut. Oleh karena itu, meraka akan membuat-buat atau mengada-ada setiap jawaban yang mereka berikan dalam tes tersebut. Hal ini disebabkan karena setiap orang tidak mau mendapatkan hasil tes psikologis yang kurang bagus, karena hal tersebut dapat memunculkan berbagai asumsi terhadap dirinya.

Kebocoran alat tes sangat mendapatkan perhatian serius dari HIMPSI. Dalam draf RUU psikologi terdapat peraturan izin praktik dan setifikasi yang sangat ketat (lihat http://himpsi.org/ORGANISASI/RUUdraft6.htm). Mereka yang melakukan praktik psikologi tanpa memiliki Sertifikasi Kompetensi Keprofesian Psikologi dan Surat Izin Praktik Psikologi diancam pidana penjara selama paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp150 juta. Bahkan, mempekerjakan seseorang yang tidak memiliki Surat Izin Praktek psikologi untuk melakukan praktik psikologi juga diancam pidana penjara selama paling lama 10 tahun. Yang cukup mengejutkan, dalam draf tersebut dinyatakan mereka yang menggunakan, memperjualbelikan alat tes dan seluruh perangkat alat tes psikologi, termasuk kunci jawaban, mendapat ancaman pidana yang sama, yaitu paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp300 juta. Padahal seperti yang penjulis sudah paparkan diatas, selama ini buku-buku berisi soal-soal psikologi dapat dengan mudah dijumpai di berbagai toko buku.

Menurut Rahmat, alat tes psikologi termasuk rahasia negara sehingga harus dijaga dan tidak bisa dijadikan pengetahuan umum. Namun, ia menambahkan, tidak semua alat tes psikologi merupakan rahasia negara. Alat tes yang merupakan rahasia negara adalah alat tes yang hanya dapat digunakan oleh psikolog, seperti yang biasa digunakan untuk rekrutmen dan penelitian masalah intelegensia dan kepribadian, serta alat tes yang hanya dapat digunakan oleh psikolog klinis, yaitu masalah psikologi yang berat yang menyangkut penyakit kejiwaan.  Sementara untuk tes psikologi model kuis seperti yang banyak terdapat di majalah, internet, maupun buku-buku yang diperjual belikan di toko buku, dapat digunakan oleh masyarakat awam.

Jadi, kerahasiaan alat-alat tes psikologi harus sangat di jaga. Terutama oleh orang-orang yang bergerak di bidang psikologi agar tes-tes tersebut memiliki daya fungsi yang sesuai dengan apa yang akan di ukur.

Hello world!

Posted On November 17, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!